Banyuwangi – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menurunkan tim khusus untuk memantau kondisi cuaca di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk pada puncak arus balik Lebaran 2025. Langkah ini dilakukan guna memastikan keselamatan dan kelancaran perjalanan masyarakat yang kembali ke Pulau Bali.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menyampaikan bahwa pada H+4 Lebaran, cuaca di kawasan Jawa Timur, khususnya di sekitar Selat Bali, berada dalam kondisi yang relatif aman dan mendukung aktivitas penyeberangan.
“Secara umum, di wilayah Jawa Timur, ancaman cuaca ekstrem sudah mulai menurun dibandingkan beberapa hari sebelumnya,” ujar Seto saat meninjau ruang pemantauan cuaca di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, pada Sabtu malam (5/4).
Meski cuaca terpantau baik, BMKG tetap melakukan pemantauan intensif seiring dengan meningkatnya volume kendaraan dan penumpang yang menyeberang dari Jawa ke Bali. Puncak arus balik diperkirakan berlangsung selama akhir pekan, dengan lonjakan aktivitas pelayaran di Selat Bali.
Tim BMKG yang diterjunkan melakukan monitoring cuaca atmosfer dan kondisi laut secara real-time, termasuk kecepatan angin, tinggi gelombang, dan potensi hujan di jalur penyeberangan. Informasi cuaca ini juga disampaikan secara berkala kepada pihak otoritas pelabuhan dan instansi terkait.
BMKG juga mengimbau masyarakat, khususnya pemudik dan operator kapal, untuk selalu memperhatikan peringatan dini cuaca serta mengikuti arahan dari petugas pelabuhan guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Langkah antisipatif ini merupakan bagian dari upaya sinergi pemerintah untuk menjamin keselamatan publik selama periode mudik dan arus balik, terutama di jalur transportasi laut yang padat.
Dengan dukungan cuaca yang bersahabat dan pengawasan yang ketat, diharapkan proses arus balik Lebaran 2025 dapat berlangsung dengan lancar, aman, dan tertib bagi seluruh pengguna jasa penyeberangan.









