Denpasar — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali merilis laporan terbaru yang menunjukkan bahwa perekonomian Bali pada triwulan III tahun 2025 mencatatkan pertumbuhan positif, dengan sektor pariwisata dan lapangan usaha terkait masih menjadi motor utama penggerak ekonomi daerah.
Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, dalam keterangan resminya di Denpasar, Rabu (5/11), menyampaikan bahwa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali atas dasar harga konstan (ADHK) tahun 2010 pada triwulan III 2025 mencapai Rp44,90 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan triwulan II 2025 yang tercatat sebesar Rp44,75 triliun, serta triwulan III 2024 sebesar Rp42,40 triliun.
“Jika dibandingkan dengan triwulan II tahun ini, ekonomi Bali tumbuh sebesar 0,34 persen (quarter-to-quarter). Sedangkan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, ekonomi kita tumbuh 5,88 persen (year-on-year),” jelas Agus Gede.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Bali dari triwulan I hingga triwulan III tahun 2025 mencapai 5,81 persen, dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Menurutnya, capaian ini tergolong impresif, terutama karena masih lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada kisaran 5,12 persen.
Pariwisata Masih Jadi Penggerak Utama
Agus Gede menjelaskan bahwa struktur perekonomian Bali masih sangat dipengaruhi oleh lapangan usaha yang berkaitan dengan sektor pariwisata, seperti akomodasi dan makan-minum, transportasi dan pergudangan, perdagangan besar dan eceran, konstruksi, serta jasa hiburan dan rekreasi.
“Sektor-sektor yang terkait dengan pariwisata kembali menunjukkan performa yang kuat setelah sempat melambat pada pertengahan tahun. Momentum ini menjadi indikasi bahwa Bali berhasil menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan daya saing di tengah dinamika global,” ujarnya.
BPS mencatat bahwa kinerja sektor akomodasi dan makan-minum menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi, didorong oleh peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik yang signifikan sepanjang Juli hingga September 2025. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Bali, kunjungan wisatawan mancanegara selama periode tersebut mencapai lebih dari 1,6 juta orang, atau meningkat 10 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Selain itu, sektor transportasi dan pergudangan juga tumbuh solid seiring meningkatnya aktivitas penerbangan internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Sejumlah rute baru dari Asia dan Australia turut berkontribusi terhadap kenaikan jumlah penumpang dan kargo.
Kinerja Investasi dan Konsumsi Meningkat
Selain sektor pariwisata, BPS juga mencatat adanya peningkatan pada komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi, terutama pada proyek-proyek infrastruktur dan pembangunan fasilitas wisata baru di kawasan strategis seperti Sanur, Kuta, dan Nusa Dua.
Peningkatan konsumsi rumah tangga turut menopang pertumbuhan ekonomi. Faktor musiman seperti periode libur panjang dan kegiatan keagamaan pada triwulan III 2025 memberikan dorongan tambahan terhadap permintaan barang dan jasa di tingkat lokal.
“Daya beli masyarakat tetap terjaga berkat inflasi yang rendah dan kenaikan pendapatan di sektor jasa. Ini memperkuat perputaran ekonomi daerah dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan,” tambah Agus Gede.
Sementara itu, konsumsi pemerintah juga menunjukkan tren positif akibat realisasi belanja modal yang meningkat menjelang akhir tahun anggaran. Pemerintah Provinsi Bali mendorong percepatan proyek-proyek infrastruktur dasar seperti jalan, drainase, serta sarana publik penunjang wisata yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski capaian ekonomi Bali tergolong positif, BPS menyoroti beberapa tantangan yang perlu diantisipasi untuk menjaga tren pertumbuhan. Salah satunya adalah ketergantungan tinggi terhadap sektor pariwisata, yang membuat ekonomi Bali rentan terhadap gejolak eksternal seperti kondisi geopolitik global dan fluktuasi harga energi.
“Diversifikasi ekonomi harus terus didorong. Kita perlu memperkuat sektor-sektor potensial lain seperti pertanian organik, industri kreatif, ekonomi digital, dan energi terbarukan agar ekonomi Bali tidak hanya bertumpu pada pariwisata,” ungkap Agus.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan vokasi dan pelatihan berbasis industri pariwisata berkelanjutan. Dengan begitu, masyarakat Bali dapat menikmati manfaat langsung dari pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Pemerintah Provinsi Bali sendiri tengah mendorong percepatan implementasi dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yakni KEK Kesehatan Sanur dan KEK Kura Kura Bali, sebagai bagian dari strategi memperluas basis ekonomi daerah. Kedua kawasan tersebut diproyeksikan menjadi pusat investasi, inovasi, dan penciptaan lapangan kerja baru yang mampu meningkatkan ketahanan ekonomi Pulau Dewata.
“Dengan stabilitas ekonomi yang terjaga, tingkat inflasi yang rendah, dan dukungan sektor investasi yang semakin menguat, kami optimis pertumbuhan ekonomi Bali akan terus positif hingga akhir 2025,” tutup Kepala BPS Bali.









